oleh

Sidang Gugatan Perbuatan Melawan Hukum PT ASTRA SEDAYA FINANCE ( ACC)

Jakarta 6/8/2018 tepat pukul 11.00 dipengadilan negeri jakarta selatan, telah dilaksanakan sidang gugatan perbuatan melawan hukum antara Aprilliani Dewi selaku penggugat melawan PT ASTRA SEDAYA FINANCE ( ACC) selaku tergugat. Sidang kali ini memasuki sidang yang ke 4 kali dengan agenda pembacaan gugatan dari penggugat.

Andalas.news pada hari ini berkesempatan melakukan wawancara kepada penggugat yang kali ini diwakili oleh kuasa hukumnya Edy winjaya,SH. Edy mengatakan awal terjadinya gugatan ini karena atas ketidak nyaman dan merasa terancam serta diintimidasi oleh tergugat III.
” Hari ini kita sudah sampai kan kita bacakan gugatannya di mana depbkolektor sebagai tergugat 3, Di mana klien kami melakukan kredit mobil Avanza tahun 2014. di saat menjalani kredit dimana klien kami mengalami masalah keuangan. Dan pembayaran menjadi macet. Pada suatu hari klien kami tiba-tiba didatangi oleh tergugat 3 yaitu Depbcollector, ujar edy.

Tergugat 3 yang mana pada saat datang kerumah klien kami itu hanya membawa surat kuasa surat, tetapi surat kuasa tersebut tidak bermaterai. Dan tanpa ada kop surat dan lain lainnya. maka klien kami dalam hal ini menyuruh pulang tergugat 3 karena kami anggap itu surat tidak sah sebab tidak ada materainya, lanjut edy.

Baca Juga :   Berburu DPO Buronan kasus Penipuan 2 Milliar, Bersembunyi 2 tahun di Kota Dumai

“Berapa bulan kemudian Depbcolektor atau tergugat 3 datang kembali datang kerumah klien kami yaitu ibu Aprilliani Dewi dan langsung masuk ke rumah klien kami. Yang mana tergugat 3 melakukan pemadaman lampu. Disitu menurut keterangan klien kami, para tergugat 3 melakukan caci maki kepada klien kami dengan menggunakan kata-kata kasar dan menyakitkan. bahkan mengancam akan dibunuh. Kita juga punya bukti rekaman videonya, yang mana rekaman videonya itu nanti kita akan Siarkan sebagai barang-barang bukti, tambah edy.

” Di dalam pembuktian nanti selain klien kami dimaki-maki, rumahnya juga di gembok dari luar oleh tergugat 3. Atas kejadian tersebut kami sudah membuat laporan polisi di Polsek setempat. namun laporan polisi tidak berjalan padahal sudah jelas sekali Pak Kapolri pada saat itu menyatakan Apabila ada di Depbcolektor yang mengambil mobil dengan cara kekerasan bisa dilaporkan ke polisi. Ddan itu sudah kami lakukan. Kami sangat menyayangkan dari rekan-rekan aparat di mana klien kami sudah membuat laporan polisi tapi itu tidak dijalankan dengan yang seharusnya, ujar edy lagi.

“Jadi permasalahannya hanya sebatas itu dan kita berupaya semaksimal mungkin agar yang menjadi hak-hak klien kami terpenuhi. dengan kejadian ini psikologis klien kami Ibu Apriliani Dewi kejiwaan agak tertekan. sekarang klien kami lebih banyak berdiam diri dan Sudah jarang bersosialisasi dengan para tetangga tetangga setempat.
karena yang pertama klien kami merasa malu, yang kedua dia merasa terintimidasi dan takut keluar rumah dan lain-lainnya, tegas edy.

Baca Juga :   Bakamla RI – Unpad Teken Kerja Sama Kajian Hukum Internasional Kamlamla

saat pertama awal beliau didatangi oleh debt collector dan di intimidasi, yang tahap berikutnya beliau di intimidasi kembali itu dengan waktu jarak kurang lebih 11 bulan. di saat tergugat 3 datang pertama kali hanya membawa surat kuasa tapi tidak ada materainya. Jadi kurang sah menurut klien kami. Tergugat 3 di sini juga memaki-maki pada saat pertama kali datang. kurang lebih sebulan kemudian tergugat 3 datang lagi kerumah klien kami. Bahkan datang bersama aparat polisi. Pada saat klien kami meminta surat perintahnya, aparat polisi tersebut tidak bisa menunjukkan surat perintah itu. Justru malah Polisinya bilang dia dari Babinsa atau dari mana gitu loh, tambah edy lagi.

” Rencana kami juga akan menyurati ke kadiv propam terkait dengan laporan kami yang kami tau sampai saat tidak di jalankan juga. Sampai saat ini tidak ada mediasi. Kita mengirim surat pun lama dibalasnya. Justru disaat kita mengirim surat, berapa bulan kemudian 2 kali klien kami mengirimkan surat dan tidak ada jawaban. dan kami mengirim lagi baru dijawab, justru jawabannya klien kami di suruh bayar utang atau bayar angsuran dulu. sedangkan yang menjadi pokok permasalahan tidak dibahas, tegas edy lagi.

Baca Juga :   Mengedukasi Masyarakat, TNI - Polri Bersinergi Beri Penyuluhan Hukum di Desa Awo

” Sedangkan menurut aturan Apabila salah satu perusahaan ingin menggunakan jasa pihak ketiga itu harus menggunakan badan usaha juga. tidak bisa diberikan secara pribadi dan ini juga sudah kita laporkan ke OJK Namun kita juga belum dapat informasi dari OJK. tindak lanjutnya sehingga OJK kita tarik sebagai turut tergugat. Kaitan OJK kita bicara masalah regulasi, dimana OJK ini melakukan pengawasan terhadap perusahaan perusahaan yang bergerak di bidang usaha keuangan Finance dan lain-lainnya. di sini Kita juga menyurati OJK untuk memberikan teguran kepada ACC, namun sampai saat ini klien kami tidak mendapatkan hasil dari pengaduannya tersebut. sehingga OJK bisa ditarik sebagai turut tergugat dalam perkara ini. Langkah ke depannya kami masih berupaya gugatan kita dapat dikabulkan dan dapat diterima oleh majelis hakim. dan kita berupaya semaksimal mungkin akan memanggilkan ahli- ahli yang lebih paham tentang masalah jasa keuangan ini, tutup edy diakhir wawancara.

Angel.

Komentar

News Feed