oleh

MELALUI PAGELARAN WAYANG KULIT, FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS PANCASILA AJAK MASYARAKAT JAGA KERUKUNAN ANTAR WARGA

rangka menyambut Dies Natalis Universitas Pancasila yang ke-53, Civitas Akademika Universitas Pancasila, menyelenggarakan wayang dengan lakon “Brojodento Labuh” yang dibawakan oleh Maestro Dalang Ki Anom Suroto dan Ki Bayu Aji Pamungkas. ini ditonton oleh ribuan masyarakat pecinta seni wayang kulit se-Jabodetabek, serta dihadiri oleh para pejabat teras civitas akademika Hukum Universitas Pancasila.

Rektor Universitas Pancasila, Prof. Dr. Wahono Sumaryono, Apt, turut hadir sebagai tamu kehormatan, dengan beberapa tamu undangan lainnya, seperti Irjen Kemenkumham dan Dirjen Kemendikbud.

“Pergelaran wayang kulit jika dimaknai ataupun dibaca hanya sekadar tontonan maka akan pendek tertelan waktu, tetapi jika simbol yang menjelaskan situasi bangsa dan negara atau dunia saat ini tentunya akan menjadi menarik”, ungkap Ketua Panitia Pergelaran Wayang Kulit Universitas Pancasila 2019 Ade Saptono di Jakarta, Minggu.
Kisah Brojodento Labuh menceritakan tentang kerelaan dan pengabdian seorang Brojodento, putra bangsawan kerajaan Pringgodani yang seharusnya bisa menjadi Raja Pringgodani namun dengan penuh keikhlasan, hak itu diberikan kepada anak kakak perempuannya, Dewi Arimbi, yang bernama Raden Gatotkaca.

Sayangnya menjelang pelantikan Gatotkaca sebagai raja, Brojodento kerap mengalami provokasi dan bujuk rayu dari Sengkuni, untuk tetap menuntut hak tersebut, sehingga sempat terjadi konflik diantara Brojodento dengan kerabat lainnya yang menimbulkan huru-hara di Pringgodani. Tidak lama setelah konflik tersebut terjadi, Brojodento akhirnya sadar terhadap tipu daya Sengkuni, dan kembali memilih “Labuh” yakni mengabdi dan bekerja sepenuh hati untuk kemajuan kerajaan Pringgodani.

Cerita tersebut merefleksikan situasi dalam negeri beberapa waktu belakangan ini yang sempat memanas akibat adanya polarisasi yang sempat terjadi di masyarakat akibat . Ade Saptono, menuturkan kisah tersebut menggambarkan kerukunan yang terjadi diantara pihak-pihak yang bertikai, karena diawali dengan kesadaran penuh maka mereka dapat kembali bersatu untuk bahu membahu membangun Maju. Hal ini bisa tercermin dari susunan kabinet Presiden Joko Widodo (Jokowi). “Dalam konteks , kerukunan Kabinet Pak Jokowi menjadi menarik, semua menjadi satu untuk memajukan negara Indonesia, padahal sebelumnya sempat ada perbedaan pendapat diantara para menteri tersebut,” ucapnya di sela-sela pegelaran wayang kulit di halaman Fakultas Hukum UP, Sabtu malam (2/11).

Baca Juga :   Yonif Raider 515 Kostrad Terima Penyuluhan Hukum

Selain itu, kisah Brojodento, dapat menjadi contoh pemikiran bagi seluruh masyarakat Indonesia bahwa perbedaan pandangan sekeras apapun, pada akhirnya harus berujung pada satu tujuan, yaitu menjadikan Indonesia menjadi negeri yang adil dan makmur, bagi seluruh rakyat Indonesia, dengan mengedepankan Persatuan Indonesia.

Sementara itu, Rektor Universitas Pancasila, Wahono Sumaryono, menjelaskan bahwa pagelaran tersebut menjadi kewajiban moral UP untuk warisan budaya bangsa yang bermutu tinggi seperti wayang kulit. “Semoga pagelaran ini akan meningkatkan ketakwaan kita kepada Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, menambah kecintaan kita kepada nusa bangsa dan negara serta, meningkatkan persatuan dan kesatuan kita sebagai warga masyarakat, sehingga dapat -sama menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tutupnya.

Related posts

Komentar

News Feed